I’m so happy

Aku jatuh cinta. Menjijikkan memang, karena aku bukanlah tipe orang yang senang terbius oleh perasaan sangat addictive itu. Perasaan yang berlangsung konstan, dimana setiap saat pikiranmu tertuju pada suatu orang tersebut. Logikamu hilang sehingga lingkar hidupmu, ekosistem pikiranmu terganggu. Herannya banyak orang yang menyukai perasaan ini. Banyak orang yang suka terjebak rayuan benda yang namanya cinta ini. Kalau ditanya kenapa begitu, mungkin logikaku akan menjawab, setiap orang ingin mempunyai tempat dimana mereka bisa melepas penatnya kehidupan sehari-hari, masalah dengan keluarga dan teman, hingga sampai hal-hal tidak penting lainnya. Jika tempat (dalam hal ini, orang) itu diketemukan maka sudah pasti orang-orang tadi tidak akan melepaskan comfort spotnya, apapun konsenkuensinya. Kau merasa bahwa kau harus melihatnya setiap hari, meihat senyumnya, mendengar suaranya, menangkap tatapannya saat matanya melihat ke arahmu. Alah, menurut logikaku semuanya gombal. Tapi kalau kau ambil sudut pandang orang lian mungkin benar.

Jujur saja, (ini merupakan penekanan yang sekian kalinya, dan untuk jaga-jaga saja akan ada banyak penekanan hal ini) aku tidak suka jatuh cinta. Aku tidak suka merasa panas dingin jika berada dekat dengan”nya”, tidak suka merasakan degup jantungku yang terlalu cepat (rasanya seperti terkena serangan jantung. Asal tahu saja dulu jantungku lemah. Tidak percaya? Tanya saja kepada orang tuaku yang pasti akan bercerita panjang lebar tentang kelainan jantungku pada waktu kecil. Eh! Tunggu! Apa karena ini aku benci cinta? Ah, sudahlah sangat absurd sekali. Mari kita lanjutkan) Aku tidak suka kehilangan kata-kata saat berbicara “kepadanya”. Aku tidak suka blablabla dan blablabla. Yang paling penting di antara belantara kata-kataku adalah aku tidak suka kehilangan logika.

Mungkin kalian mengira hal ini aneh. Sementara 95% wanita di luar sana (menurut buku sains yang entah apa judulnya) memakai emosinya dalam berpikir, aku dan 5% wanita lainnya (yan beberapa di antaranya terpengaruh steroid -mungkin saja mereka atlet- & kebanyakan testosteron) memakai logika. Ahh… duna yang hanya terbagi oleh benar dan salah, hitam dan putih (walau pun tak bisa kupingkiri, akan ada terus sebuah garis abu-abu diantaranya) itu sangat indah. Aku tidak akan tersinggung jika ada yang “mukanya nyolot”, atau marah jika diteriakin “biasa aja dong” (lah memang sudah biasa begini mau diapakan lagi?), atau menangis jika digencet oleh kakak kelas (adanya juga malah balik berantemin… mungkin aku memang kelebihan testosteron?). Tapi benar kok, ekosistem seseorang yang menganut logika sangatlah bebas, tanpa ada halangan ini itu dan tanpa babibu.

Oh ya kembali ke masalahku tadi, aku jatuh cinta (ihh! seperti lagu-lagu murahan saja). Seorang AKU ternyata (dengan kelainan di jantungnya) bisa jatuh cinta. ARRRGGGHHHH!!! Memang ini bukan yang pertama, tapi… tapi… kok bisa… LAGI??? Bisa dihitung sudah berapa kali aku jatuh cinta… dengan 1 tangan. Ummm… *sibuk menghitung* 3 kali, TIGA!!! Dan salah satunya cuma cinta monyet, satunya lagi anjing, satunya lagi babi. Hahaha. Ha. Dan coba pikirkan, ini seperti jatuh empat… tu, wa, ga, pat… EMPAT kali di lubang yang sama terdengar amat sangat menyedihkan (bukan bagi kalian tapi bagi seorang AKU) dan terasa agak hina. Percayalah aku merasa harga diriku -bukan, tidak, diriku- diinjak-injak oleh”nya” yang bahkan tidak sadar bahwa sisa-sisa jasadku masih berada di bawah sepatunya.

Oke… oke… tenang… ambil nafas… lalu keluarkan… fuuuh… haaah… fuuuh… haaah… fuuuuuh. Mari kita telusuri bagaimana ini bisa terjadi. Inilah analisa seekor serangga yang terinjak-injak. Untuk subject kita yang satu ini, kita beri saja inisial S. Kenapa S? Kepanjangan untuk sepatu (yang menginjak aku, si serangga) dan eS, karena dia memang sedingin eS. Tidak segitunya sih, tapikan… (udah ah males buat alesan). Baik aku akan membahas hal ini lewat satu atau dua cara. (sebenarnya cuma ada satu, tapi nanti akanku pikirkan lagi) Ehm.. EHMM… pertama: secara scientific. Secara kronologisnya begini. Aku sudah lama bertemu dengan S lumayan lama (kalau menurutmu 1/2 tahun itu lama) di ruangan penuh sesak oleh perokok-peroko yang tidak tahu diri dan orang-orang menyebalkan lainnya. Pada saat itu aku malah menganggap”nya” sama saja dengan orang-orang itu. Toh, aku tidak begitu memperhatikannya. Yang kutahu dia adalah blablabla dari blablabla, blablabla yang blablabla, itu juga dari orang lain, yang tentu saja belum tentu benar. Berbicara dengannya saja baru sekali. Itu juga cuma pembicaraan tidak penting melaui telepon. Yah, pertemuan singkat yang cuma berlangsung 2 hari, kalau waktu tatap muka kita dijumlahkan juga tidak akan sampai sejam, itu juga di ruangan banya orang.

Lalu aku sering bertemu (baca: melihat) S di acara-acara tidak penting lainnya, yang juga banyak orang-orang tidak penting. Hmmm mungkin anda-anda semua, para pembaca terkasih, menganggap S itu orang yang sangat tidak penting (seperti aku saat pertama kali mengenalnya). Tapi, weitts, jangan salah, dia banyak yang mau loh (CIHH!!!). Dia itu tipe-tipe pria idaman tipikal anak gaul Jakarta (yang kalau aku hanya melihat tampangnya saja aku tidak akan suka… tampang gaul). Tapi orangnya pendiem, kalem, ndeso, tapi tiba-tiba suka rame sendiri, dan kadang bodoh, tapi kadang-kadang suka kritis… yah begitulah. Bingungkan? kalau orang yang kenal sama dia saja langsung suka, apa lagi orang yang sudah kenal. Yah, itu si S, kalau aku… sepertinya tidak oerlu dijelaskan. Kalian toh sudah tahu sedikit banyak setelah membaca ini (yah setidaknya nebak-nebaklah).

Nah, kalau dulu S sebegitu tidak pentingnya bagiku dulu, kenapa sekarang aku bisa *hoeks* kepincut? Begini, akhirnya kami bertemu (karena hal yang sangat profesional, tentunya) dimana orang-orang di ruangan itu cuma terdiri atas satu orang tidak penting dan dua orang yang cukup penting. Pulang-pulang dari pertemuan itu kok ada sesuatu hal yang aneh dan sangat mengganjal. Aku merasa aneh. Ada perasaan yang tidak enak di hati, seperti sedang menuruni roller coaster super cepat sehingga hatimu terasa mengambang, keadaan psikologis dan keadaan emosionalmu terangsang, tekanan darah, kadar gula darah dan detak jantungmu melambung tinggi sehingga kau ingin sekali berteriak. Tapi karena ini di alam nyata dan bukan di atas roller coaster, kau hanya bisa terdiam dan menelan kembali semua energi yang berlebihan itu.

Tidak tahan akan semua G-force buatan itu aku memberi tahu temanku. Dan dia langsung membuat muka aneh dan berusaha menyadarkanku bahwa S adalah manusia biasa. Benar, manusia biasa, pikirku waktu itu. Semenit, dua menit… aku tidak tahan!

Tapi… Ucapku lagi sambil memaparkan segala macam tentang S. Aku memaksa otakku memeras archive memoriku dan berusaha menguras segala ingatanku saat kami “bersama” selama satu jam. Dia tetap kaget. Aku tidak bisa menyalahkannya sih. Habisnya dalam jangka waktu *menghitung lagi dengan jari* hampir enam tahun, dia tidak pernah melihat aku sangat amat tidak rasional seperti ini. Aku yang tidak pernah mengalami love at first sight, yang selalu percaya butuh pengenalan lebih dalam dan blablabla.

Nah nah nah, di sinilah aku akan mengeluarkan analisaku. Begini-begini aku tahu sedikit banyak tentang science loh, dengan bermodalkan software ensiklopedi dan langganan Discovery Channel di rumah). Ehm… EHM… begini, pada dasarnya, sama seperti kebanyakan hewan, manusia mengeluarkan pheromone. Pheromone adalah bau yang dikeluarkan oleh hewan (manusia juga termasuk) yang mempengaruhi perilaku opposite sex speciesnya yang menandakan kesiapan bereproduksi. Pheromone bekerja secara analog dengan cara hormon mengirimkan signal dari satu set sel-sel ke set sel lainnya, yang pada akhirnya menyebabkan mereka berperilaku tertentu. Setahuku , bau pheromone sangatlah samar, kau mungkin tidak bisa membauinya dengan jelas.

Sama seperti babi, (loh kok babi? Karena babi juga mengeluarkan pheromone dan lagi ilmuwan-ilmuwan genius di Discovery Channel juga memakai contoh babi, jadi aku tidak mau susah-susah mencari contoh lain yang nanti belum tentu benar dan aku akan mendapat kecaman dari segenap pembaca budiman sekalian) seekor babi tidak akan memiliki kriteria seperti berikut:

Babi cantik, 3th, mencari babi cakep, berat dan tinggi badan ideal, hidung mancung dan mempunyai kubangan lumpur yang luas. Bagi yang merasa memenuhi syarat harap hubungi redaksi.

Kriteria sang babi tersebut hanya bergantung pada pheromone babi lainnya yang memiliki peta genetika yang saling melengkapi antara satu sama lain. Peta genetika yang saling melengkapi ini akan mencegah keturunan babi-babi ini untuk mempunyai kekebalan terhadap penyakit yang lemah hingga mengalami mutasi genetika. Jadi insting dasar babi akan mendorong mereka untuk memilih pasangan yang peta genetikanya melengkapi peta genetika babi itu. Dalam kata-kata yang lebih mudah insting babi (atau hewan apalah, termasuk manusia) akan mendorong mereka untuk memilih pasangan yang akan memberikan keturunan yang terbaik dan bisa bertahan hidup lebih lama.

Nah, sistem ini ternyata juga teraplikasikan pada manusia. Setidaknya pada awalnya sebelum mereka mencari manusia cakep dengan berat dan tinggi badan ideal, hidung mancung dan mempunyai kubangan lumpur yang luas. Jangan anggap ini omong kosong. Ini sudah dibuktikan. Pada progam yang kutonton setengah hati itu diadakan sebuah tes dimana ada enam wanita di suruh untuk memakai sepotong t-shirt setiap malam selama 2-3 hari. Dengan syarat selama 2-3 hari itu keenam wanita tersebut tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mempengaruhi bau badan, seperti bawang, pete, jengkol (yah kalian lebih tahu, hehe). Setelah tiga hari t-shirt itu kemudian dikumpulkan dan masing-masing dimasukkan ke dalam toples dan di”inkubasi”kan (aku tidak tahu apa nama prosesnya, maaf), lalu setelah proses inkunasi selesai dipanggilah seorang pria untuk membaui masing-masing toples yang berisi toples tersebut dan pria tersebut diminta untuk menandai bau t-shirst mana yang dia paling suka. Setelah dilakukan tes darah ternyata bau t-shirt yang paling tidak disukai oleh pria itu adalah t-shirt milik wanita yang gennya tidak memiliki kecocokan dengan gen pria tersebut dan di lain pihak,wanita dengan t-shirt yang menurut pria tersebut mempunyai bau yang paling enak memiliki kecocokan gen yang tinggi. Ini berarti keturunan yang akan dihasilkan oleh pasangan yang memiliki kecocokan gen tersebut akan memiliki keturunan yang akan mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi.

Mungkin jika kalian ada waktu, edit saja pembicaraan yang membosankan ini. Aku pun menulisnya capek. Leherku kaku. Haaaah.. sampai mana tadi? Oh ya, jadi pada saat temanku mulai mengerti blablabla tentang S, aku pun berteriak: “Aku ingin dibuahi olehnya!” Dan dia sontak langsung kaget dan tertawa. Yah, memang omongan kami selama ini selalu liar jika menyangkut tentang hal-hal tertentu tetapi aku bisa berbangga hati karena aku telah menjadi pionir di uncharted territory. Hahaha. Ha. Pada saat itu tidak terpikirkan tentang tayangan Discovery Channel itu, bahwa aku jatuh cinta kepada wangi memabukkan pheromone yang diproduksi oleh tubuh S itu. Pada saat itu aku hanya menganggapnya sebagai crush belaka, taksiran yang tidak akan merugikan dan menguntungkanku. Taksiran itu hanya ada sesaat, menunjukkan eksistensinya yang tidak penting dan akan berlalu seperti… umm… balon gas yang melayang di udara. Tapi toh, betapa beruntungnya aku karena telah menonton program itu, karena aku sedikit banyak bisa jatuh cinta dan itu tetap bisa masuk di akalku dan logikaku. Bahwa bagiku, S dan aku were genetically meant to be.

Hmm… selama aku menulis hal-hal yang bahkan bakal membuat guru biologi SMA-ku melongo karena tidak ada gunanya, baik bagi anda sekalian maupun diriku, aku memikirkan teori kedua. Teori kedua ini berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat religius. Terus terang saja aku bukanlah orang yang terlalu religius. Aku malas beribadah, jarang berdoa dan terkadang malah sering melontarkan pendapat-pendapat yang terkesan agak blasphemous. Tapi itu bukan berarti aku menganggap tidak ada kekuatan yang lebih besar di luar sana (baca: Tuhan). Aku selalu menganggap hubunganku dengan Tuhan adalah hubungan yang sangat pribadi. Hubungan yang tidak perlu diproklamirkan kepada setiap orang. Ibadahku kepada Tuhan hanya perlu diketahui olehku dan hanya aku seorang.

Yah, kalian jangan kaget saja jika sewaktu-waktu aku mengaku aku atheis. Memang dulu aku sempat menjadi seorang atheis, tetapi alangkah sombongnya aku jika aku tidak mengakui keberadaannya sedangkan dia mengakui keberadaanku. Ingin bukti? Aku ada, aku hidup, aku bisa menuliskan pikiranku yang nantinya akan kalian baca. Setidaknya aku sudah menorehkan sedikit keberadaanku (kurang lebih seperti: “Rinintha was here”) pada pohon kehidupan anda semua, yang telah setia membaca torehan-torehan tidak pentingku.

Banyak yang bertanya kepadaku, kenapa kamu tidak ini dan tidak itu. Salah satu dari mereka adalah ibuku yang selalu menyuruhku untuk ini dan untuk itu. Bukannya aku merasa ini dan itu adalah perbuatan bodoh yang tak berguna, tetapi jujur saja aku merasa tidak bisa melakukan ini dan itu sebelum aku bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan burukku. Aku tidak ingin melakukan ini dan itu di depan orang lalu malah berlaku buruk di belakang orang tersebut yang nantinya malah membuatku lebih jauh dari yang di atas sana. Mungkin pikiran ini terlalu radikal bagi kebanyakan orang jalan pikiranku memang begini. Nah kan jadi komat-kamit lagi! Intinya mungkin saja ini adalah hadiah kecil dari Tuhan buatku.

Jadi memang sebegini besar rasa benciku terhadap cinta sampai membawa-bawa sains dan Tuhan segala. Argh! Mungkin kalian akan merasa ini terlalu dibuat-buat dan bertanya, “Emang kenapa sih jadi orang ribet amat?”. Hmm… ingat ceritaku tentang cinta monyet, anjing dan babi yang pernah aku alami dulu? Ya, orang-orang yang terlibat di dalamnya memang monyet, anjing dan babi. CIH! Perlu dipahami juga kalau aku tidak meletakkan keselahan pada monyet, anjing dan babi itu. Masalahnya terletak pada diriku juga sih. Aku tidak suka jatuh cinta karena aku akan merasa sangat amat helpless. Pernahkah kalian mendengarkan lagu I’m so happy dari L’Arc~en~Ciel? (note: L’Arc~en~Ciel sebuah band Jepang yang merupakan obsesiku sejak lama tetapi akhir-akhir ini mulai banyak disukai oleh anak-anak gaul Jakarta dan sekitarnya). Jika terjemahannya kalian akan tahu kalau aku merasa seperti orang yang ada di dalam lagu itu jika aku sedang jatuh cinta.

Tokoh di lagu itu berkata jika yang tercermin dimata orang-orang adalah aku yang tersiksa, maka bunuhlah aku sampai aku benar menutup mata. Pada lagu itu dia mendefinisikan bagaimana dia melihat pujaannya. Jika pada suatu saat dia dilahirkan kembali dian ingin menjadi orang yang paling dekat dengan pujaannya itu. Pada akhir lagu secara berulang dia mengucapkan “I love you” dan pada akhirnya berkata “I’m so happy with love”, lalu mengulang kata-kata pertamanya.

Perasaanku juga seperti itu saat aku jatuh cinta. Ingin dekat dengan”nya” tanpa kepura-puraan, isi otakku hanya wajahnya yang sedang tersenyum, suaranya dan blablabla. Ekosistem hidupku terganggu. Pada akhirnya aku tersiksa karena aku adalah manusia yang berprinsip logika dan jika aku jatuh cinta aku merasa logikaku terluka karena tidak terpakai dan diganggu oleh hormon-hormon yang mengalir deras dan cepat dalam tubuhku. Tapi seperti kata hyde (note: sang penulis lagu), pada akhirnya, betapa tersika, terluka dan kesalnya aku terhadap cinta, di dalam alam bawah sadarku yang terlepas dari logika dan penjelasan0penjelasan saintifik, aku akan tetap berkata “I’m so happy with love”, maka bunuhlah aku sampai aku benar-benar menutup mata.

-Rinintha Pradiza

PS. tulisan ini dipikirkan si ojek, mulai dikembangkan di kelas saat uas sedang berlangsung, pertama ditulis di bis kota, diselesaikan di food court sambil melahap sebuah fresh garden salad dan segelas jus tomat sambil mendengarkan lagu I’m so happy secara berulang-ulang.

5 Comments

  1. prinsip org berbeda2, cara memandang pun jg berbeda….
    terlebih lagi cara menyikapi….

    komment…. apa ya….
    ??
    ???

    hahahha bingung!!! karena total beda…
    when u love some one, then u love it…. thats all
    logika? ya tetep jalan

    logika, hati, dan science itu hal yg berbeda bukan

    u dont need science and logika to fall in love,

    u dont need science to explain why u fall in love…

    tapi…. overall… u need strength (power…), to do anything,
    or something to hold, otherwise we will in the lose side…

    and when u r in the lose side… ya… prepare for all the concequensis..

    but again….

    when its about love (nuno:mode)…

    hahahahhaha dont think it… just fell it…
    ga ada menang kalah kok, ga ada harga diri kok…

    its not about

  2. when its about love (nuno:mode)…

    hahahahhaha dont think it… just fell it…
    ga ada menang kalah kok, ga ada harga diri kok…

    its not a battle…

    so ga ada menang kalah…

    kekalahan sebenarnya disaat kita ga bisa mempertahankan cinta kita
    kemenangan sebenernya disaat kita bisa bertahan…

    itu aja

    — nuno —

  3. hmm…..

    g senang dengan apa yang terjadi pada dirilu…
    lu akan menemukan jawabnya, just feel it and don’t deny it
    ga bisa g ungkapin, tapi yang terasa, g seneng [serasa ingin menepuk punggungmu]
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s